Scroll untuk baca artikel
Headline

Di Balik Stigma, Mapala: Generasi Mandiri yang Terpinggirkan di Kampus

×

Di Balik Stigma, Mapala: Generasi Mandiri yang Terpinggirkan di Kampus

Sebarkan artikel ini
Foto Istimewa.

Oleh: Rahmat Djaba / Dinosaurus

Kader Mapala-STA, alumni Pendidikan Dasar Gabungan Indonesia Timur di Makassar, 1996

Hariantimur.id, GORONTALO – Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) adalah sebuah organisasi kemahasiswaan intra kampus yang sering dilekatkan dengan simbol mahasiswa selenge’an, senang berpetualang, berambut gondrong. Bahkan, tidak jarang dosen dan mahasiswa yang parlente dan ambisius memberi stigma kelompok ini dengan sebutan “mahasiswa paling lama”.

Adalah benar, karena di saat mahasiswa lain sibuk dengan seminar atau lomba akademik, atau kejar-kejaran dengan dosen, mahasiswa pecinta alam memilih bergulat dengan lumpur, mendaki gunung, menundukkan tebing dengan kegagahannya, atau bahkan berjibaku dengan keganasan alam dalam misi penyelamatan.

Stigma mahasiswa paling lama dikatakan kurang tepat, karena banyak juga dari kader Mapala yang cerdas, pandai mengatur waktu, dan menyelesaikan studinya tepat waktu dengan IPK yang tidak kalah bersaing dengan mahasiswa dari organisasi lain yang justru memfokuskan diri pada studi.

Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) merupakan generasi langka yang justru mulai terpinggirkan dalam wacana kampus, pembangunan, bahkan menjadi tema obrolan yang serasa kurang sedap didengar saat ini.

Sejatinya, seorang kader Mapala adalah mereka yang memegang teguh nilai-nilai yang menjawab krisis lingkungan, krisis moral para pejabat, dan generasi muda. Mahasiswa Pencinta Alam adalah mereka yang memahami serta berpegang teguh pada prinsip-prinsip akhlak lingkungan.

Seorang kader Mapala saat memasuki dunia Mapala harus mampu mengemban misi lingkungan dan patuh pada etika pecinta alam sebagai ideologinya. Etika ini didasarkan pada Kode Etik Pecinta Alam Indonesia yang dicetuskan oleh seluruh anggota Mapala pada tahun 1974, yang meliputi tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa, dan tanah air, serta kewajiban menjaga alam, menghormati masyarakat, dan mempererat persaudaraan sesama pecinta alam melalui tiga prinsip: “Take nothing but pictures, leave nothing but footprints, kill nothing but time.”

Kode etik diarahkan untuk membimbing perilaku pecinta alam sehingga memiliki karakter yang baik dan bertanggung jawab. Etika dasar yang ditanamkan pada jiwa, dan mengkristal dalam bentuk perilaku kader Mapala, adalah kontras dengan fenomena yang berlaku saat ini, di mana pencurian oleh pejabat yang dalam bahasa santunnya disebut korupsi terus merajalela.

Tindakan represif oleh aparat yang menyebabkan luka bahkan kematian seolah menjadi dekorasi wajib saat tuntutan demokrasi disuarakan. Bekas-bekas kerusakan alam yang oleh beberapa kalangan disebut akibat bekingan negara dan aparatur, terus membekas dalam bentuk bencana ekologi yang semakin masif.

Seorang kader pecinta alam tidak bersuara marah, namun terus melestarikan alam. Mereka bahu membahu dalam kelompok kecil menegakkan pepohon kecil yang roboh, bahkan melakukan penanaman satu atau dua batang pohon di lingkungan yang mereka tuju.

Berbeda dengan mahasiswa atau dosen yang menguasai dengan dalam ilmu dan teori lingkungan, namun hanya mampu beraksi dalam bentuk tulisan dan seruan tanpa tindakan nyata. Mapala bukan sekadar organisasi petualangan, melainkan sebuah wadah pembentukan karakter, kepedulian lingkungan, dan solidaritas sosial.

Salah satu gambaran kontribusi nyata yang mereka lakukan adalah upaya konservasi hutan, membersihkan sungai dari sampah, hingga tanggap bencana. Sayangnya, kontribusi ini jarang mendapat sorotan atau apresiasi yang layak dari pejabat kampus maupun pemerintah, yang merindukan generasi berkarakter namun habis dalam tataran konsep.

Dalam realitasnya, Mapala sering mengalami stigmatisasi: dianggap sebagai “petualang liar”, “pemalas akademik”, atau hanya pencari eksistensi. Sadarkah kita bahwa stigmatisasi ini berawal dari kurangnya perhatian dan dukungan kampus? Kegiatan Mapala yang dominan di alam dan lingkungan dianggap tidak sejalan dengan “kinerja akademik”, sehingga minim alokasi dana, fasilitas, dan dukungan struktural dibanding organisasi lainnya.

Pembina Mapala hanya mampu diisi oleh mereka yang non job di lingkungan fakultas maupun institut tanpa pengetahuan dasar kepecintaalaman. Sementara itu, para pakar lingkungan berebut menelusuri jejak penelitian lingkungan berbiaya. Tragis, seorang pakar ilmu lingkungan tidak mengajarkan atau menjadi pembina bagi organisasi yang diisi oleh jiwa-jiwa muda pencinta alam dan lingkungan.

Kontras jadinya saat biaya perjalanan dinas pejabat, yang seharusnya dapat membantu Mapala untuk menyalurkan bakat dan hobinya, hanya habis untuk pelesiran dan foya-foya.

Kader dalam organisasi Mapala adalah Generasi Langka di Era Instan dan Digital. Di saat sebagian besar mahasiswa lebih tertarik pada kegiatan instan, viral, dan nyaman, Mapala justru menyibukkan diri dengan tantangan fisik dan mental yang keras, yang tidak lagi populer. Hal inilah yang kemudian menjadikan kader Mapala menjadi generasi langka. Mereka memilih jalan sunyi untuk membentuk karakter sejati.

Mereka tidak ambisi merebut gelar sebagai generasi emas sebagaimana selalu digaungkan pemerintah, karena sesungguhnya nilai dan etika mereka terhadap alam lebih mahal dan tidak layak disejajarkan dengan emas sebagai gelar.

Kader dalam organisasi Mapala adalah potensi besar yang abai dalam perhatian. Mereka sepatutnya menjadi duta kampus untuk isu-isu lingkungan dan sosial, karena di tubuh mereka ada kapasitas kepemimpinan, empati, dan pengalaman lapangan yang tidak diperoleh di bangku perkuliahan.

Sejatinya, potensi ini dirangkul, bukan disingkirkan, bukan disudutkan dan diabaikan, melainkan dirangkul karena mereka adalah permodelan mahasiswa dengan perilaku cinta dan mencintai alam. Mereka jauh dari perilaku korup karena di hati mereka terpatri tiga janji suci kader pecinta alam.

Simpulannya, mahasiswa pecinta alam adalah aset generasi berkarakter yang butuh diarahkan, dirangkul, dan dibekali pengetahuan lingkungan. Mereka bukan generasi beban, sebaliknya mereka generasi mandiri yang bersedia menghemat jajannya demi perlengkapan dan cita-cita penaklukan alam.

Kampus dan masyarakat perlu membuka mata bahwa pembangunan karakter dan kepedulian sosial tak hanya terjadi di ruang kelas. Di luar sana, jauh dari hiruk pikuk fitnah keji, manipulasi, dan korupsi, ada kelompok kecil yang berdiskusi hanya dengan cahaya bintang, lantunan alam, dan kehangatan selimut bumi.

Sadarilah, saat dunia dilanda krisis iklim dan bencana kemanusiaan, negara ini justru butuh lebih banyak kader-kader Mapala. Sokong mereka, beri mereka ruang untuk belajar dan menyalurkan hobi, segarkan dan motivasi mereka dengan ilmu lingkungan agar lebih searah dengan cita-cita pembangunan.

Kepada para birokrasi kampus, mari sisihkan anggaranmu untuk membangun asa kader-kader Mapala, karena di pundak mereka lestarinya alam dan lingkungan sebagai pertanggungjawaban makna hakiki khalifatul fil ardh.

Salam Lestari Berkeadilan


**Nikmati berita pilihan menarik lainnya langsung di ponselmu hanya dengan klik Channel WhatsApp Hariantimur.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *