Hariantimur.id, NASIONAL – Nilai tukar rupiah kembali tertekan menyusul gejolak global yang kian memanas, mulai dari eskalasi perang dagang hingga ketegangan geopolitik. Sentimen negatif itu mendorong pelemahan tajam rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, Jumat (4/4/2025) hingga pukul 20.53 WIB, kontrak rupiah Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri anjlok ke level Rp17.006 per dolar AS, atau melemah 1,58 persen.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipicu sejumlah faktor global, terutama rilis data tenaga kerja AS yang di luar dugaan lebih kuat dari perkiraan.
“Banyak data fundamental yang memengaruhi pelemahan mata uang rupiah. Salah satunya adalah rilis data tenaga kerja di Amerika Serikat. Datanya di luar ekspetasi, lebih baik dibandingkan dengan data sebelumnya,” jelas Ibrahim, Sabtu (5/4/2025).
Tak hanya itu, testimoni dari pejabat The Federal Reserve (The Fed) yang menyatakan bahwa suku bunga belum bisa diturunkan dalam waktu dekat juga menambah tekanan terhadap rupiah.
“Penurunan suku bunga menunggu dampak dari perang dagang,” tambahnya.
The Fed awalnya diperkirakan akan menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali sebesar total 75 basis poin. Tapi kemungkinan itu kini mengecil, karena inflasi masih tinggi dan situasi ekonomi global belum stabil.
Kondisi tersebut memperkuat indeks dolar AS secara signifikan. Di sisi lain, kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia, turut memperkeruh situasi. Ibrahim menyoroti respons Indonesia yang hingga kini masih memilih jalur negosiasi.
Menurutnya, Indonesia seharusnya juga mempertimbangkan langkah balasan, seperti mengenakan tarif impor 32 persen untuk produk-produk asal AS. Situasi semakin kompleks dengan memburuknya geopolitik global.
“Ini membuat indeks dolar AS kembali mengalami penguatan yang cukup signifikan,” ujarnya.
Serangan Israel yang terus menggempur Jalur Gaza dan kembali memanasnya konflik Rusia-Ukraina turut memberikan tekanan tambahan pada pasar keuangan, termasuk rupiah.
“Kondisi itu membuat mata uang rupiah kembali mengalami pelemahan yang cukup signifikan, walaupun Bank Indonesia melakukan triple intervensi di pasar, kemungkinan Senin lusa,” ucap Ibrahim.
Sementara itu, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa BI akan terus mengoptimalkan strategi triple intervention, yakni intervensi di pasar valas spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Hal itu dalam rangka memastikan kecukupan likuiditas valas untuk kebutuhan perbankan dan dunia usaha serta menjaga keyakinan pelaku pasar,” tegas Ramdan.
Bank Indonesia juga menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar global dan domestik, terutama pasca pengumuman kebijakan tarif terbaru dari Presiden Trump.
**Nikmati berita pilihan menarik lainnya langsung di ponselmu hanya dengan klik Channel WhatsApp Hariantimur.id.














